well, it's in Indonesia...feel free to comment


Kisah yang akan anda baca ini berbeda dari kisah-kisah fantasi yang pernah anda baca atau saksikan selama ini. Cerita ini bukan tentang naga-naga, peri-peri, atau pun makhluk-makhluk fantasi lainnya. Bukan sekedar cerita kehidupan sehari-hari juga bukan legenda atau mitos kepahlawanan seperti kisah para Titan atau sebuah dongeng yang menjanjikan kisah bahagia selamanya yang lebih dikenal dengan istilah klisenya “happily ever after”.

Kisah ini merupakan cerita tentang seorang manusia yang hidup di dunia ini dengan dirinya sendiri yang hidup di semesta lain yang merupakan kebalikan dari dunia yang kita kenal ini. Para penyihir dan cendekiawan lebih sering menyebutnya dengan sebutan “Dunia Bawah”. Penyihir dan cendekiawan ini berbeda dari apa yang kalian bayangkan, bukan penyihir dengan tongkat ajaib, jubah hitam, atau sapu terbang melainkan seseorang yang dapat mengendalikan kekuatan alam gaib dengan tetap bertopang pada kekuatan jiwa dunia atau Gaia dan memiliki tanda berbentuk organik ditubuhnya (letaknya bisa dimana saja) sebagai tanda bahwa mereka telah menyatu dengan Gaia dan alam gaib. Dan cendekiawan yang meneliti Dunia Bawah ini adalah cendekiawan yang menekuni banyak ilmu namun lebih spesifik pada disiplin ilmu geophysiology dan ilmu sistem bumi, dimana mereka melakukan penelitian bukan untuk pengetahuan umum dan hasil riset mereka tentang Dunia Bawah ini hanya segelintir kaum yang mengetahuinya dengan tujuan yang akan dipikirkan lagi dikemudian hari setelah mereka tahu lebih banyak tentang dunia bawah ini. Karena bagaimana pun proses penelitian dengan cara kaum terpelajar ini lebih memakan waktu ketimbang mencari tahu dengan cara penyihir.

Ya, apa yang belum diketahui para cendekiawan telah diketahui terlebih dahulu oleh kaum penyihir. Bahwa Dunia Bawah ini adalah sebuah semesta yang mirip dengan dunia manusia, segala sesuatu yang ada di bumi Dunia Bawah pun memilikinya, segala jenis hewan dan tumbuhan serta kandungan mineral dan senyawa nya pun sama, namun berbeda fungsi yaitu kebalikan dari fungsinya di dunia manusia. Tumbuhan-tumbuhan yang bisa dimakan menjadi tidak bisa dimakan atau beracun di Dunia bawah dan sebaliknya. Jika semua sama, apa penghuninya juga sama? Ya, inilah yang mencengangkan bagi kaum penyihir dan cendekiawan, bahwa manusia yang ada di bumi juga ada di Dunia Bawah seakan-akan mereka kembar identik secara fisik namun sifatnya bertolak belakang sama sekali. Seorang yang jahat hatinya di bumi akan mendapati dirinya yang berhati mulia di dunia bawah, dan fakta ini membuat para cendekiawan memiliki gagasan untuk menukar pribadi yang kurang baik di bumi dengan pribadi yang unggul di dunia bawah, inilah penelitian selanjutnya dari kaum cendekiawan namun tentu butuh biaya mahal, sedangkan para investor kaum-kaum elit yang menopang dana penelitian cendekiawan yang tertutup keberadaannya selama ini masih dalam perdebatan apakah hal itu mungkin dilaksanakan, atau kah baik atau tidak untuk dilakukan, paling tidak mereka ingin tahu pasti segala resiko baik besar maupun kecil dan menguntungkan atau tidak jika gagasan para cendekiawan gila ini dijalankan.

Sedangkan kaum penyihir sendiri menentang keras gagasan itu, karena dengan melakukan penukaran itu -yang masih belum diketahui cara melakukannya, dikhawatirkan akan mengacaukan keseimbangan semesta dan mengganggu sistem kompleks dari Gaia yang ada di bumi. Namun konfrontasi antara kaum cendekiawan dan kaum penyihir tidak akan terjadi selama komite kaum elit yang dirahasiakan identitasnya ini masih belum memutuskan apa-apa soal pendanaan penelitian dan gagasan penukaran tersebut.
***

Pagi itu Shoshana atau Sho –begitu ia lebih suka dipanggil, bangun tersentak kemudian dengan mata nanar memandangi langit-langit kamar tidurnya. Beberapa saat kemudian Ia mengerjapkan mata seraya menenangkan diri, lalu menguap sesaat begitu sadar bahwa Ia benar-benar telah kembali ke dunia nyata. Tidak hanya pagi itu, sebenarnya setiap pagi Sho selalu begitu, bangun dengan tersentak sampai-sampai bisa membuat orang lain yang satu ruangan dengan nya ikut kaget, bahkan burung yang baru bertengger dekat jendela kamarnya pun terbang karena sentakannya.

Sekali lagi Sho meraba-raba pipi, badan dan kasurnya kemudian mengangguk seakan meyakinkan dirinya bahwa itu memang benar kasur miliknya. Segera setelah itu Ia berlari semangat menuju meja belajarnya yang tidak pernah Ia gunakan untuk belajar dan meraih buku gambarnya kemudian membuka halaman demi halaman yang telah diisi gambar-gambar sketsa tangannya sendiri, lalu berhenti pada halaman yang kosong dan mulai menggambar. Ia menggambarkan mimpinya malam kemarin yang baru saja berakhir. Ia gambarkan dirinya berdiri di pinggir sebuah sungai sambil memandangi bayangannya sendiri yang tercermin dari air sungai tersebut, akan tetapi bayangannya itu tidak berprilaku seperti apa yang sedang Ia lakukan saat itu.

Seperti anak anjing heran, Sho memiringkan kepalanya melihat gambarnya sendiri karena mimpi sejenis itu sudah terjadi tiga malam berturut-turut, namun sebelumnya ia memandangi bayangannya di cermin dan dari pantulan benda-benda metal dalam sebuah ruangan besar dan kosong. Baru kali ini ia bermimpi seperti itu, biasanya ia selalu mengalami mimpi luar biasa yang penuh petualangan.

Ia selalu senang tidur dan bermimpi, karena hanya itu yang membuat dia bersemangat menjalani harinya, setidaknya bersemangat melalui hari menantikan malam lagi agar bisa kembali tidur dan bermimpi. Di sekolahnya, Sho tidak punya banyak teman. Hanya beberapa anak baik hati yang mau bicara dengan Sho, itu pun seperlunya saja. Bagi anak-anak seumurnya Sho terlalu banyak bicara, dan apa yang dibicarakan Sho kebanyakan tidak dimengerti oleh anak-anak lain. Kalaupun ada yang mereka pahami, paling hanya bagian dimana Sho menyebutkan bahwa Ia berteman dengan penyihir bernama Rogath, atau pernah melihat peri, bahkan belajar menari dan bermain alat musik dari Kheiron sang Centaurus yang beradab. Tentu hal itu sangat tidak disukai anak-anak lain dan dianggap aneh, karena menurut mereka Sho terlalu bersikap pamer. Meskipun sebenarnya sikap pamer itu biasa buat anak-anak, tapi apa yang dipamerkan terlalu mengada-ada buat mereka. Penyihir memang ada dan mereka tahu itu, tapi tak satu pun dari mereka bahkan orang tua mereka pun belum pernah melihat penyihir secara langsung. Dan mengenai Centaurus yang beradab, yang benar saja. Centaurus itu bar-bar dan lagi mereka hanya makhluk mitologi, jadi anak mana yang tahan mendengar bualan seperti itu. Sho tahu mimpinya itu berlebihan, tapi siapa yang peduli karena mimpi itu begitu nyata baginya dan ia menikmatinya karena hanya didalam mimpinya ia merasa didengarkan, dimengerti, jadi pusat perhatian dan itu menyenangkan. Habis perkara. Sho tidak menyadari bahwa sesungguhnya semua itu bukan mimpi belaka, semua itu nyata namun terjadi dalam mimpi. Sho memiliki kemampuan berteleportasi ke alam-alam lain atau dunia lain baik masa lalu, masa kini, atau masa depan melalui mimpi di malam hari.

Bell istirahat siang berbunyi, semua anak segera bergerombol. Ada yang menyantap bekal bersama, ada pula yang ke kantin, beberapa anak laki-laki berbondong-bondong ke lapangan bermain bola, dan Sho tetap di bangkunya sendirian sambil menciumi makanannya dalam kotak makan yang dibekali dari rumah. Ibu Sho tidak terlalu pandai memasak, yang jago masak justru ayahnya, namun sayang ayahnya telah meninggal setahun yang lalu setelah hampir dua tahun koma.

Sambil menyantap makanannya, Sho membuka sketsa yang ia gambar tadi pagi tentang mimpinya semalam. Sambil mengunyah sosis yang setengah hangus, “Apa boleh buat, perutku lapar” pikirnya –karena ia lebih memilih menyimpan semua uang jajannya untuk membeli buku cerita daripada membeli jajanan yang lebih enak di kantin. Sho kembali memandangi bayangannya disetiap gambarnya, yaitu di cermin, pantulan benda metal, dan sungai. Orang itu mirip sekali dengannya, tapi Sho tahu pasti bayangan itu bukan dia melainkan orang lain.
Beberapa detik setelahnya, Ia melihat gambar itu bergerak. Entah ilusi atau bukan, Sho kemudian mengedipkan matanya untuk memastikan namun sesaat setelahnya setengah badannya jatuh lemas dan wajahnya membentur meja, Sho tak sadarkan diri. Setidaknya itu yang dilihat teman-teman kelasnya, karena sebenarnya jiwa Sho berada di tempat lain. Di dunia bawah.
Benar saja, bayangannya itu memang orang lain, seseorang yang mirip dengannya di dunia bawah. “Kau terlihat tak bahagia, biar ku perlihatkan bagaimana caranya jadi bahagia” begitu kata anak itu, tidak jelas apa maksudnya. Dia, kembarannya itu berdiri dibelakangnya, ia tak menatap langsung anak perempuan itu, lagi-lagi dia hanya melihat dari pantulan bayangannya di genangan air tempatnya tersungkur. Setelah mengatakan itu, anak itu lenyap.
Namun dari genangan air itu, muncul bayangan lain. Ruang kelasnya, tempat ia tadi menyantap bekal makanannya. Ia melihat jasadnya terbangun, lalu ia menatapnya sambil tersenyum penuh makna. Tidak salah lagi, anak itu telah menukar jiwanya dengan jiwa Sho di dunia. Kini Sho paham maksud kalimat terakhir anak itu, anak itu dengan tubuh Sho menindas teman-temannya yang lain, semua temannya yang mencibir tentang dia dan menjauhinya. Perlakuan teman-temannya itu memang tidak menyenangkan, tapi Sho tidak pernah merasa membenci mereka, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan adalah mencari-cari, entah apa yang dicari yang ia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan itu semua tapi karena tidak tahu apa, dia hanya mencari-cari dengan gelisah. Hingga malam pun tiba, dan ia teringat sesuatu bahwa ia bisa bermimpi. “Mungkin ini hanya mimpi, kalau sekarang aku tidur disini mungkin aku bisa bangun” pikir Sho.

Ia terus mencoba tidur, tapi tidak bisa tertidur. Sho memang masih anak-anak tapi ia tahu bahwa ini tidak beres, dimana ia berada pun ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak mengenal tempat itu, sebuah ruangan kosong dan besar persis seperti di mimpinya kemarin tapi ia tidak bisa menemukan pintu, hanya ada sebuah jendela kecil tinggi jauh dari jangkauannya.
Sho berkeliling dalam ruangan itu, dan ia melihat cermin dan perabotan dari keramik dan metal yang bisa memantulkan bayangan seperti yang pernah ia lihat dalam mimpi, dan dari benda-benda itu terpantul dirinya yang sedang dikuasai anak itu. Ia melihatnya mencampakan masakan ibunya malam itu dan memecahkan piring lalu pergi. Sho melihat wajah ibunya yang lelah dan kaget, melihat wajah itu membuatnya ingin menyentuh pipi tirus wanita itu. Tapi tidak bisa, dan kini Sho sedih. Selama ini Sho tidak terlalu memperdulikan rasa sedihnya, namun kali ini serbuan rasa sedih menyambanginya. Sho baru tahu seperti ini rasanya, dan yang makin membuatnya sedih Ia memang tidak pernah menyakiti ibunya atau berbuat tidak sopan seperti apa yang barusan dilakukan Sho gadungan itu, tapi Sho juga sadar bahwa selama ini perhatiannya hanya untuk ayahnya dan terlebih setelah kepergian ayahnya Sho semakin acuh.
Dan kesedihan itu kemudian mengingatkan Sho pada mimpinya ketika bertemu penyihir Rogath, “Nyatakan keinginan terdalam mu dari hati, maka seluruh dunia akan bersatu padu untuk mewujudkan keinginan itu. Karena ketika kau meminta dari hati terdalam mu, saat itu jiwa mu bersatu dengan jiwa dunia, dan jiwa dunia akan merasakan keinginan mu dan berusaha untuk mewujudkannya” demikian ucapan Rogath ketika itu.

Dan Sho pun melakukannya, Ia meminta dalam hatinya untuk kembali ke rumah, Ia ingin membelai wajahnya, wajah ibunya yang tirus dan kelelahan. Lelah karena kepergian suaminya, lelah karena harus berjuang sendiri merawat Sho, anak yang sulit dimengerti, anak yang spesial, anak yang menutup diri dari dirinya.

Saat itu juga jiwa dunia bersatu, Sho dapat merasakan energinya. Jendela tinggi itu pecah, dan cahaya silau menyengat masuk ke dalam ruangan membuat mata Sho memincing. Lalu terdengar suara lembut dan dalam, tidak jelas ucapannya namun seperti sebuah mantra, dan kalimat mantra itu terdengar bergemuruh lembut dan jernih seperti nyanyian peri hutan. Berdirilah sesosok yang menjulang gagah, bermata sayu, berparas elok, muda nan bijaksana. Dialah Rogath, penyihir arif dan merupakan penyihir pertama yang bukan dari dunia manusia dan dunia gaib.
“Kau tahu jiwa dunia selalu menjawab setiap ketulusan, energinya bisa kau rasakan. Jiwa dunia adalah dirimu sendiri. Sekarang kau sudah mengerti itu, maka dunia akan membantu mu” ucapan yang terlalu berat untuk seorang anak kecil, dan memang Sho tidak paham. Jadi, beginilah jawab Sho “Penyihir, bisakah aku kembali. Anak itu mengacaukan semuanya.”
“Tidak kah kau tahu, dia hanya melengkapi kekacauan yang kau buat sendiri. Apakah dia akan melakukan itu, jika kau sendiri bisa mengatur sendiri masalah mu.” Kali ini Sho paham, seperti saat keinginan untuk membelai ibunya muncul, tepat ketika dia melihat sendiri dengan jelas wajah ibunya, selama ini ia melihat tapi tidak memperhatikan. Dan ia baru menyadari, anak itu selama ini melihat dan memperhatikan, melalui cermin, genangan air, dan perabotan itu.

“Dia adalah Seraquina, penyihir dari dunia ini. Kau tahu dunia ini apa?” katanya menunjuk pada tempat mereka berada saat itu. “Ini adalah dunia bawah, bagian lain dari dunia yang kau kenal. Dan Seraquina adalah penyihir kecil, salah satu penghuni dunia bawah ini. Dia kesepian, sebatang kara juga pendendam. Ia belajar sihir karena itu dia bisa melakukan apa yang dia lakukan sekarang, mengurung mu disini dan menjadi dirimu disana. Dia juga bermimpi dan berteleportasi, seperti yang kau alami selama ini. Mimpi-mimpi mu itu bukan mimpi, semua nyata. Kau berteleportasi melalui mimpi.” Pantas, segala sesuatu tampak begitu nyata di setiap mimpinya, sekarang Sho tahu.
“Kau tahu kenapa kau melihat Seraquina hanya berupa pantulan bayangan?” Sho menggeleng “Karena ketika kau bertatap wajah langsung dengannya, saat itulah mantra sihirnya terpatahkan. Aku hanya bisa membantu menarik Seraquina ke tempat ini, namun Seraquina masih bisa berulah lagi selama sihir belum dipatahkan. Maka selanjutnya, kaulah yang memutuskan Sho, semua tergantung usahamu. Ingatlah, jiwa dunia akan membantu mu” Lalu cahaya silau kembali menyambangi, dan seketika itu juga Rogath lenyap. Beberapa detik kemudian terdengar suara, Seraquina telah berada diruangan itu.

“Kau curang, anak cengeng, jelek. Untuk apa kau kembali, kau tidak dibutuhkan disana” Seraquina bergerak cepat, Sho lagi-lagi hanya melihat pantulannya. Sho tidak tahu mau menjawab apa, yang ada dalam otaknya hanya cara menatap Seraquina secara langsung, dia tidak memperdulikan omelan Seraquina. “Sekarang semua telah membencimu. Kau tahu kenapa aku berbuat begitu, aku hanya ingin keadilan. Kau tahu kenapa ayahmu meninggal, aku yang mengambilnya. Saat dia koma, itu perbuatan ku. Aku mengurungnya disini. Ia mati karena jiwanya berada di dunia yang bukan seharusnya dan jasadnya di dunia lain, lama-lama ia melemah dan mati. Itu juga yang akan terjadi padamu, kau tidak akan kembali. Aku akan pergi meninggalkan mu disini.” Mendengar itu, pikiran Sho buyar. Dalam dirinya yang datar itu, kembali meluap emosi dan luapan emosi itu rasanya tidak enak. Sho yang jarang merasakan emosi kemarahan, hatinya terasa ingin meledak, ia tidak bisa menampung perasaan-perasaan itu. Marah, sedih, kesal, dan rindu, karena ia terkenang ayahnya. Luapan perasaan yang muncul sekaligus itu membuat kakinya lemas, dan Ia pun jatuh terduduk, ingin menyerah rasanya. Sho jarang menangis, dia memang terlahir dengan karakter seperti itu, tapi kali ini air mata itu menetes ke pipinya, tidak banyak tapi cukup untuk membuktikan bahwa ia punya perasaan.
Lalu air mata itu menetes jatuh ke genangan air. Dari riak air itu kemudian muncul sesosok laki-laki yang ia kenal, ayahnya. Sho tercengang, tapi ia tidak bisa menemukan ayahnya dimana-mana, hanya pantulan bayangan di air, cermin, perabotan. Sho pun melihat ke arah cermin besar, karena hanya dari situ ia bisa melihat ayahnya secara lengkap. Ia melihat bayangan itu membuka tangannya, kemudian dengan cepat ia mencengkeram Seraquina. “Sho, jangan pernah kesepian. Papa selalu bersama mu...” lalu ayahnya mengangguk dalam. Seraquina meronta-ronta, namun tetap tidak bisa melepaskan cengkeraman itu. Maka Sho pun membalikan badan, dan saat itu ia bisa melihat Seraquina, ia menatapnya dengan tatapan kemenangan. Seraquina membelalak dan berteriak tidak terima akan kekalahan. Semua genangan air diruangan itu berpercikan, semua benda-benda keramik dan cermin pecah, benda-benda metal berjatuhan. Kemudian cahaya menyilaukan kembali menyambangi, dan semua menjadi putih.

Pagi itu Shoshana bangun tersentak kemudian dengan mata nanar memandangi langit-langit kamar tidurnya. Beberapa saat kemudian Ia mengerjapkan mata seraya menenangkan diri, lalu menguap sesaat begitu sadar bahwa Ia benar-benar telah kembali ke dunia nyata. Sekali lagi Sho meraba-raba pipi, badan dan kasurnya kemudian mengangguk seakan meyakinkan dirinya bahwa itu memang benar kasur miliknya. Segera setelah itu Ia berlari semangat, namun kali ini ia tidak meraih buku sketsanya, melainkan meraih gagang pintu dan berhambur cepat menuju dapur. Disana berdiri seorang wanita berwajah tirus dan lelah, namun tersimpul senyum diwajahnya sambil memotong-motong daun seledri. Sho segera berlari berisik membuat ibunya berbalik dan menoleh kearah ia datang, dengan cepat menyambar wanita itu dan memeluknya tepat dipinggangnya, karena hanya itu yang bisa diraihnya dengan tinggi badannya. Saat itu juga Sho merasakan energi tidak biasa dari dirinya dan dari tempat sekitarnya, saat itu dia teringat dan sadar bahwa saat ini jiwa dunia ikut bergembira bersamanya karena berhasil mencapai keinginannya. Kembali pulang ke rumah.

ADVERTISEMENT